TryMediaNusantara.com, Jakarta – Platform media sosial raksasa, Facebook, kini tengah menjadi sorotan tajam para pakar teknologi dunia. Meski secara angka masih memiliki miliaran pengguna terdaftar, para ahli menyebut platform besutan Mark Zuckerberg ini sudah bertransformasi menjadi “zombie digital”. Istilah ini merujuk pada kondisi di mana sebuah platform tetap terlihat hidup secara statistik, namun kehilangan nyawa atau esensi interaksi sosial yang organik dan bermakna di dalamnya.

Salah satu alasan utama yang mendasari label “zombie” ini adalah pergeseran demografi pengguna yang sangat drastis. Facebook dinilai gagal menarik minat generasi muda (Gen Z dan Gen Alpha) yang lebih memilih platform berbasis video pendek seperti TikTok atau Instagram. “Facebook sekarang seperti kota tua yang besar tapi sepi penghuni aktif. Penggunanya memang banyak, tapi mayoritas hanya sekadar punya akun tanpa melakukan interaksi yang intens,” ujar seorang ahli teknologi dalam laporan tersebut.

Tak hanya soal demografi, kualitas konten di Facebook juga dianggap kian memprihatinkan. Algoritma yang kini dipenuhi oleh iklan, konten spam, hingga video-video repost dari platform lain membuat pengalaman pengguna menjadi jenuh. “Kita melihat fenomena di mana konten original dari teman atau keluarga tertutup oleh sampah digital. Ini yang membuat ‘roh’ dari sebuah media sosial menghilang, menyisakan raga kosong yang terus bergerak secara mekanis oleh bot dan iklan,” tambahnya dalam sesi wawancara.

Masalah kian pelik karena Facebook kini lebih banyak digunakan sebagai tempat penyimpanan memori atau sekadar alat log-in untuk aplikasi lain, ketimbang tempat berbagi aspirasi. Fenomena akun “hantu”—akun yang masih ada namun pemiliknya sudah meninggal dunia atau tidak lagi aktif—diprediksi akan terus bertambah jumlahnya. “Jika tidak ada inovasi radikal, Facebook akan benar-benar menjadi pemakaman digital terbesar di dunia dalam beberapa dekade mendatang,” tegas pakar tersebut menyoroti masa depan Meta.

Sebagai penutup, meski Meta (perusahaan induk Facebook) mencoba beralih ke fokus Metaverse dan AI, bayang-bayang kegagalan relevansi platform utamanya tetap menghantui. Perusahaan dituntut untuk mencari cara agar Facebook kembali “bernafas” dan bukan sekadar menjadi zombi yang berjalan tanpa arah di ruang siber. “Targetnya bukan lagi menambah jumlah pengguna, tapi bagaimana mengembalikan keterikatan emosional pengguna yang tersisa agar platform ini tidak benar-benar mati,” pungkasnya menutup analisis.