TryMediaNusantara.com, Jakarta – Suku Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Sudin Kominfotik) Jakarta Barat terus memperkuat benteng pertahanan digital masyarakat di tengah masifnya perkembangan teknologi. Terbaru, Sudin Kominfotik menggelar kegiatan edukasi khusus yang membahas bahaya social engineering (soceng) dan penyalahgunaan Artificial Intelligence (AI). Langkah ini diambil menyusul kian beragamnya modus penipuan siber yang mengincar kelengahan psikologis pengguna internet.

Kepala Sudin Kominfotik Jakarta Barat menekankan bahwa di era digital saat ini, teknologi AI tidak hanya membawa kemudahan, tetapi juga tantangan baru dalam hal keamanan. Pelaku kejahatan kini mulai memanfaatkan AI untuk menciptakan konten palsu yang sangat meyakinkan, mulai dari suara hingga video (deepfake). Hal ini digunakan sebagai alat untuk melancarkan aksi manipulasi psikologis agar korban mau memberikan data pribadi atau melakukan transaksi keuangan.

“Kita harus sadar bahwa serangan siber saat ini tidak hanya menyerang perangkat, tapi menyerang logika dan perasaan kita melalui social engineering. Dengan bantuan AI, pelaku bisa meniru siapa saja untuk meyakinkan korbannya,” ujar pihak Sudin Kominfotik Jakbar dalam keterangannya. Masyarakat diminta untuk selalu melakukan verifikasi ganda sebelum mempercayai informasi yang diterima melalui pesan singkat maupun media sosial.

Selain memaparkan modus operandi pelaku, edukasi ini juga memberikan tips praktis bagi warga untuk melindungi jejak digital mereka. Beberapa poin penting yang ditekankan antara lain adalah pentingnya menjaga kerahasiaan OTP, rutin mengganti kata sandi, hingga sikap kritis terhadap tautan-tautan mencurigakan. Sudin Kominfotik berharap, dengan pemahaman yang baik, warga Jakarta Barat tidak lagi mudah terjebak dalam skenario manipulasi yang dirancang oleh para pelaku kejahatan.

Pemerintah Kota Jakarta Barat berkomitmen untuk terus menjalankan program literasi digital secara berkelanjutan ke berbagai lapisan masyarakat. Upaya ini dilakukan demi menciptakan ekosistem digital yang sehat dan aman. “Kunci utama keamanan digital adalah kewaspadaan. Jangan mudah memberikan data sensitif kepada siapa pun, meski alasan yang diberikan terdengar sangat mendesak atau meyakinkan,” tutupnya.