Jakarta – Dinamika politik di ruang digital kian memanas seiring munculnya berbagai isu yang menyerang sosok Prabowo Subianto. Pengamat senior, Amir Hamzah, memberikan analisis tajam terkait fenomena ini. Menurutnya, gelombang serangan yang muncul di berbagai platform media sosial belakangan ini menunjukkan pola yang sangat teratur dan tidak terjadi secara kebetulan atau organik dari masyarakat.

Amir Hamzah menyebut bahwa narasi-narasi negatif yang diarahkan kepada Prabowo memiliki ciri khas serangan yang terkoordinasi. Ia mendeteksi adanya penggunaan akun-akun tertentu secara serentak untuk menaikkan isu sensitif dalam waktu yang bersamaan. Fenomena ini, menurutnya, merupakan bagian dari strategi digital yang dirancang untuk menggiring opini publik demi kepentingan politik tertentu.

“Kalau kita lihat polanya, ini sangat sistematis. Serangan ini muncul secara bergelombang dan terencana dengan target yang sangat jelas, yakni mendiskreditkan figur Prabowo di mata pemilih muda yang aktif di media sosial,” ujar Amir Hamzah dalam keterangannya di Jakarta. Ia menekankan bahwa masyarakat perlu kritis dalam melihat sumber informasi agar tidak mudah termakan oleh agenda kampanye hitam.

Lebih lanjut, Amir menjelaskan bahwa serangan semacam ini biasanya melibatkan infrastruktur digital yang besar, mulai dari pemanfaatan teknologi otomatisasi hingga penggerak narasi di lapangan. Ia menyayangkan praktik-praktik semacam ini karena dinilai dapat merusak kualitas demokrasi digital Indonesia. Alih-alih beradu gagasan, ruang publik justru dipenuhi oleh upaya pembunuhan karakter yang tidak substansial.

Sebagai penutup, Amir Hamzah meminta agar tim pendukung maupun masyarakat luas tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh orkestrasi serangan digital tersebut. Ia mendorong adanya literasi politik yang lebih sehat agar publik mampu membedakan mana kritik yang konstruktif dan mana serangan yang bersifat manipulatif. Pengawasan terhadap aktivitas digital diharapkan dapat semakin diperketat guna menjaga iklim politik yang kondusif.