TryMediaNusantara.com, Jakarta – Terobosan besar di dunia energi terbarukan kembali lahir. Sebuah penelitian terbaru berhasil menemukan cara mengekstrak komponen dari padi untuk dijadikan bahan baku baterai hidrogen (hydrogen fuel cell) yang jauh lebih murah dan ramah lingkungan, Senin (18/5/2026).

Riset inovatif ini memanfaatkan limbah sisa penggilingan padi—seperti sekam dan kulit ari beras—yang selama ini sering kali hanya berakhir sebagai sampah pertanian tak bernilai atau dibakar begitu saja hingga memicu polusi udara.

Di tangan para ilmuwan, limbah padi tersebut diproses melalui metode termal khusus untuk menghasilkan karbon aktif berpori dengan kemurnian tinggi. Karbon berbasis biomassa ini kemudian digunakan sebagai katalis dan komponen struktural dalam sel bahan bakar hidrogen.

Mengejutkannya, performa yang dihasilkan oleh baterai berbahan dasar padi ini tidak kalah saing dengan baterai hidrogen konvensional yang ada di pasaran saat ini. Konduktivitas yang tinggi dan struktur pori alami dari padi dinilai sangat optimal untuk mengikat serta mengalirkan energi listrik.

Selama ini, salah satu ganjalan terbesar dalam komersialisasi baterai hidrogen secara massal adalah biaya produksinya yang selangit. Hal itu terjadi karena industri masih sangat bergantung pada penggunaan logam mulia langka seperti platinum sebagai bahan katalis utamanya.

Dengan memanfaatkan struktur karbon dari limbah padi, biaya produksi baterai hidrogen diproyeksikan bisa ditekan drastis hingga berkali-kali lipat. Penemuan ini tentu menjadi angin segar bagi industri kendaraan ramah lingkungan dan penyimpanan energi skala besar.

Selain hemat biaya, baterai hidrogen berbasis padi ini juga menawarkan siklus hidup yang lebih ramah lingkungan (sustainable). Komponen organiknya membuat baterai ini jauh lebih mudah didaur ulang di akhir masa pakainya, sekaligus meminimalisir pencemaran tanah akibat limbah kimia beracun dari baterai tradisional.

Meskipun saat ini riset tersebut masih berada dalam skala laboratorium, para peneliti optimis bahwa teknologi ini dapat segera diintegrasikan ke skala industri dalam beberapa tahun ke depan. Penemuan ini sekaligus membuktikan bahwa kunci dari kemandirian energi bersih di masa depan mungkin berada di sekitar lingkungan kita, termasuk di sektor pertanian.