TryMediaNusantara.com, Jakarta– Di tengah ketidakpastian geopolitik global, emas sering kali dianggap sebagai aset penyelamat atau safe haven. Namun, Direktur Utama Jakarta Futures Exchange (JFX) mengungkapkan fakta menarik: harga emas tidak selalu otomatis meroket saat terjadi konflik atau perang.
Fenomena ini sering kali membuat investor pemula bingung. Mengapa aset yang dianggap paling aman justru bisa bergerak stagnan atau bahkan turun saat tensi dunia memanas?
Dirut JFX menjelaskan bahwa meskipun konflik geopolitik memberikan dorongan psikologis pada harga emas, ada faktor ekonomi makro yang jauh lebih dominan. Salah satu “musuh” utama kenaikan harga emas adalah kebijakan suku bunga global, terutama dari Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed).
“Emas tidak memberikan imbal hasil berupa bunga. Jadi, ketika suku bunga AS tetap tinggi atau mengalami kenaikan, daya tarik emas sering kali meredup karena investor lebih memilih memegang aset berbasis dolar atau obligasi,” jelasnya.
Selain suku bunga, pergerakan indeks Dolar AS memiliki korelasi negatif yang kuat dengan emas. Saat terjadi konflik, dolar sering kali juga menjadi buruan sebagai aset aman lainnya. Jika dolar menguat terlalu tajam, harga emas yang dibanderol dalam dolar otomatis menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, yang pada akhirnya justru menekan permintaan.
Beberapa faktor yang membuat harga emas tetap fluktuatif meski ada konflik antara lain:
-
Aksi Ambil Untung (Profit Taking): Investor besar sering menjual emas saat harga mencapai puncak akibat berita perang untuk mengamankan keuntungan.
-
Likuiditas Pasar: Kadang kala, investor menjual emas untuk menutupi kerugian di pasar saham yang rontok akibat konflik.
-
Ekspektasi Inflasi: Jika pasar merasa konflik tidak akan memicu inflasi jangka panjang, dorongan beli pada emas bisa melemah.
Bagi para pelaku pasar di tanah air, Dirut JFX mengimbau agar tetap rasional dan tidak terjebak dalam panic buying. Memahami dinamika pasar berjangka sangat penting agar tidak hanya melihat satu sisi berita, tetapi juga memperhatikan indikator ekonomi global secara keseluruhan.
Transformasi digital dalam perdagangan berjangka di Indonesia kini memudahkan masyarakat untuk memantau pergerakan harga secara real-time, sehingga keputusan investasi bisa diambil berdasarkan data yang akurat, bukan sekadar rumor konflik.




Tinggalkan Balasan