TriMediaNusantara.com, Jakarta – Nukila Evanty, seorang budayawan sekaligus Ketua Inisiasi Masyarakat Adat, hadir mewakili Indonesia dalam ajang Budaya Verse di Malaysia pada Desember 2025. Forum internasional yang diinisiasi oleh lembaga Cresdo ini mengusung misi strategis untuk mengintegrasikan kekayaan seni budaya ke dalam ekosistem teknologi modern. Langkah ini diambil sebagai respons atas kekhawatiran bahwa warisan leluhur bisa terlupakan jika tidak mampu beradaptasi dengan pesatnya perkembangan zaman.

Program Budaya Verse menampilkan inovasi jelajah budaya melalui pemanfaatan teknologi 2D dan 3D, mulai dari pembuatan film kartun hingga aransemen musik berbasis kecerdasan artifisial (AI). Selain aspek kreatif, forum ini juga menyoroti pentingnya pendaftaran hak kekayaan intelektual dan dokumentasi karya budaya menggunakan sistem digital. Nukila Evanty secara khusus menekankan bahwa AI memiliki potensi besar sebagai instrumen penyelamat bagi bahasa-bahasa daerah di Indonesia yang kini terancam punah.

Meski menawarkan peluang digitalisasi yang luas, Nukila mengingatkan agar penggunaan AI dalam ranah budaya disikapi dengan penuh kearifan. Beliau menyoroti adanya risiko bias algoritma yang berpotensi menghomogenisasi atau menyeragamkan ekspresi budaya, sehingga mengaburkan keunikan lokal. Ketegangan antara dorongan inovasi teknologi dan upaya menjaga keaslian tradisi menjadi tantangan nyata yang harus dihadapi oleh para pelaku budaya di era digital ini.

Guna meminimalisir dampak negatif tersebut, peran pemerintah dan pemangku kepentingan dianggap sangat krusial dalam mengawal implementasi regulasi AI. Nukila menegaskan bahwa aturan hukum yang ada harus dipastikan berjalan efektif untuk melindungi autentisitas warisan bangsa. Dengan pengawasan yang tepat, teknologi diharapkan tetap menjadi sarana pendukung pelestarian, bukan justru menjadi ancaman bagi kemurnian identitas budaya itu sendiri.