TryMediaNusantara.com,Brussels – Sebuah fakta mengejutkan diungkap oleh para peneliti keamanan siber. Fitur keamanan super ketat yang tertanam di dalam ponsel pintar (smartphone) masa kini, ternyata menjadi salah satu pemicu utama menumpuknya miliaran HP fungsional di tempat pembuangan sampah akhir (TPA) sebagai limbah elektronik (e-waste).
Berdasarkan data dari WEEE Forum, diperkirakan ada sekitar 5,3 billion atau 5,3 miliar ponsel yang berakhir menjadi sampah elektronik. Padahal, rata-rata usia pakai ponsel pintar hanya berkisar tiga tahun, dan sebagian besar perangkat yang dibuang tersebut sebenarnya masih memiliki daya komputasi yang sangat mumpuni untuk dialihfungsikan (repurposed).Tim peneliti dari Université Libre de Bruxelles (ULB) mengungkapkan adanya tembok besar yang menghalangi upaya daur ulang atau penggunaan kembali ponsel pintar ini. Tembok penghalang tersebut justru berasal dari perangkat keras (hardware-backed security) yang dirancang untuk melindungi ponsel di “kehidupan pertama” mereka.
Sistem seperti Secure Boot, Trusted Execution Environments (TEEs), dan kunci kriptografi yang tertanam kuat pada cip (chipset), sengaja didesain untuk mengunci integritas sistem dan mengamankan data pengguna. Sayangnya, mekanisme ini secara permanen mengikat perangkat tersebut kepada ekosistem pabrikan aslinya dan menolak modifikasi perangkat lunak (software) baru yang diperlukan untuk proses guna ulang (reuse).
Para peneliti menyimpulkan, untuk mengurangi timbunan sampah elektronik dari miliaran ponsel yang terbuang sia-sia, industri teknologi global membutuhkan perubahan regulasi dan kesediaan dari para vendor raksasa demi membuka akses keamanan perangkat keras mereka agar dapat dimanfaatkan demi keberlanjutan lingkungan.




Tinggalkan Balasan