TryMediaNusantara.com,Jakarta – Pergerakan pasar keuangan dan komoditas global bergerak dinamis hari ini. Harga emas dunia terpantau melemah ke level terendah dalam dua bulan terakhir. Di sisi lain, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) justru sukses menunjukkan taringnya dengan bergerak menguat pasca-keputusan berani Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan.
Berdasarkan data Daily Market Update dari PT Indonesia Logam Pratama (Treasury) per Rabu (10/6/2026), harga emas spot dunia melosor ke level US$ 4.255,28 per troy ons, jatuh dari penutupan hari sebelumnya di angka US$ 4.262,52 per troy ons. Posisi ini membawa tren teknikal emas terjerembap di bawah indikator MA200 (Moving Average 200 hari) yang memicu aksi jual massal (selling momentum) oleh para investor.Koreksi tajam komoditas safe haven ini terjadi di tengah memanasnya kembali ketegangan geopolitik akibat serangan baru AS ke Iran. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran kebuntuan logistik di Selat Hormuz, lonjakan harga energi, hingga ekspektasi bahwa suku bunga AS (The Fed Rate) akan bertahan tinggi lebih lama.
Berbanding terbalik dengan emas, mata uang Garuda justru perkasa. Nilai tukar rupiah berhasil menguat ke level Rp 17.875 per dolar AS. Otot rupiah mengencang sesaat setelah Bank Indonesia memutuskan mendongkrak BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan untuk membendung gejolak eksternal.Meskipun harga emas global terus mengalami koreksi teknikal, harga emas fisik digital dalam negeri masih relatif kokoh bertahan di kisaran Rp 2,4 juta hingga Rp 2,7 juta per gram tergantung platform (Antam, Pegadaian, Treasury, Indogold) karena kompensasi nilai kurs makro.
Para pelaku pasar kini memilih bersikap wait and see sembari mengalihkan perhatian penuh mereka pada rilis data inflasi Amerika Serikat terbaru, yakni Consumer Price Index (CPI) dan Producer Price Index (PPI), yang diprediksi akan menjadi kompas penentu arah kebijakan suku bunga global selanjutnya.




Tinggalkan Balasan