TryMediaDigital.com, Jakarta – Harga emas mengalami koreksi tajam pada pembukaan perdagangan Senin (9/3/2026), di mana harganya ambruk 1,7% ke level US$ 5.083,79 per troy ons. Penurunan ini berbanding terbalik dengan performa pada Jumat pekan lalu yang sempat terbang 1,83% ke angka US$ 5.169,92. Pelemahan ini sekaligus mengakhiri tren positif yang telah berlangsung selama empat pekan berturut-turut, dengan akumulasi penurunan mingguan mencapai 2,03%.

Volatilitas harga yang sangat tinggi ini menunjukkan betapa cepatnya perubahan sentimen di pasar global. Meskipun prospek jangka menengah emas dinilai masih positif, penguatan dolar AS yang terus berlanjut berisiko memudarkan pantulan harga dalam jangka pendek. Dalam situasi seperti ini, investor cenderung lebih berhati-hati dan sering kali memanfaatkan momentum penurunan untuk melakukan pembelian jika dukungan ekonomi makro masih dianggap kuat.

Kondisi geopolitik di Timur Tengah saat ini memberikan dampak ganda yang cukup rumit bagi pergerakan emas. Di satu sisi, konflik biasanya memicu minat pada aset safe haven, namun di sisi lain, ketegangan ini menyebabkan harga minyak melonjak. Kenaikan harga minyak tersebut memicu kekhawatiran akan lonjakan inflasi, yang diprediksi dapat menghambat langkah The Federal Reserve (The Fed) untuk memangkas suku bunga dalam waktu dekat.

Selain faktor inflasi, ketegangan di Timur Tengah juga mendorong indeks dolar AS meroket hingga ke level 99,46 pada akhir pekan lalu, posisi tertinggi sejak November 2025. Karena emas diperdagangkan menggunakan mata uang dolar, penguatan nilai tukar dolar secara otomatis menekan daya beli investor dan memicu koreksi harga. Hal ini menjadi penghambat utama bagi emas untuk mempertahankan rekor kenaikannya.

Meskipun tertekan, emas masih memiliki peluang penguatan dari sisi data tenaga kerja Amerika Serikat yang mulai melemah. Kondisi ini meningkatkan ekspektasi bahwa The Fed tetap akan memulai pemangkasan suku bunga pada akhir 2026. Selain itu, aksi beli oleh berbagai bank sentral dunia serta ketidakpastian perdagangan global tetap menjadi fondasi kuat yang menjaga permintaan emas dalam jangka panjang.