TryMediaDigital.com, 02 Februari 2026-Dunia saat ini sedang memasuki era Kecerdasan Buatan (AI) yang mengubah segalanya—mulai dari cara kita bekerja hingga cara kita beriman. Di tengah perubahan besar ini, pesantren diharapkan menjadi benteng terakhir yang menjaga moral dan akhlak bangsa.

1. Perjalanan Panjang Pesantren

Dahulu, menurut tokoh seperti Gus Dur dan Nurcholish Madjid, pesantren sering dipandang sebelah mata dan dipinggirkan. Namun hebatnya, lembaga pendidikan Islam tertua ini mampu bertahan, bahkan bertransformasi menjadi universitas dan institut modern tanpa meninggalkan akarnya sebagai pencetak pemimpin agama yang saleh.

2. Tantangan “Rimba Digital”

Sekarang, tantangannya bukan lagi soal pengakuan, melainkan arus digital yang sangat deras. Data terbaru tahun 2025 menunjukkan:

  • Pengguna Internet: Mencapai lebih dari 229 juta jiwa di Indonesia.

  • Dominasi Generasi Muda: Generasi Z dan Alpha adalah pengguna terbanyak (digital native).

  • Waktu Online: Rata-rata orang Indonesia menghabiskan hampir 8 jam sehari di internet.

Jika pesantren tidak beradaptasi, mereka bisa tenggelam. Namun, jika mampu kreatif, pesantren bisa menjadi cahaya di tengah gelapnya dunia maya yang penuh hoaks dan ujaran kebencian.

3. Munculnya “Smart Pesantren”

Saat ini, muncul konsep Smart Pesantren. Santri tidak hanya diajarkan membaca “Kitab Kuning”, tetapi juga “Kitab Digital”—yakni memahami cara kerja algoritma, literasi informasi, dan etika berinternet.

Beberapa pesantren besar seperti Tebuireng dan Gontor sudah mulai melatih santrinya agar melek digital. Tujuannya agar 5 juta santri di Indonesia bisa menjadi pasukan “dakwah siber” yang menyebarkan konten positif, santun, dan menyejukkan.

4. Ilmu Tanpa Adab Adalah Bahaya

Teknologi AI memang canggih dan efisien, tapi ia tidak punya perasaan dan akhlak. AI bisa membuat video palsu (deepfake) atau menyebarkan konten manipulatif. Di sinilah peran penting santri: menyeimbangkan kecanggihan teknologi dengan tanggung jawab etis.

Kesimpulannya: Literasi digital bagi santri bukan sekadar jago menggunakan komputer, tapi tentang bagaimana membawa nilai-nilai akhlaqul karimah ke dalam dunia siber. Santri diharapkan menjadi “penyaring moral” agar kemajuan teknologi tidak menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan.