TryMediaNusantara.com, Yogyakarta – Cara generasi muda dalam menyuarakan isu lingkungan kini telah mengalami pergeseran masif. Jika dulu perjuangan menyelamatkan bumi identik dengan aksi turun ke jalan atau demonstrasi, kini anak muda memanfaatkan kekuatan jempol mereka. Melalui kampanye digital yang kreatif di media sosial, generasi Z dan milenial dinilai memegang peran krusial dalam mempercepat upaya penyelamatan lingkungan.

Fenomena positif ini dibahas mendalam dalam diskusi akademis di Universitas Gadjah Mada (UGM). Para pakar menilai, konten kreatif yang dibuat oleh anak muda terbukti lebih efektif memicu kesadaran kolektif masyarakat luas.Dosen sekaligus peneliti dari UGM mengungkapkan bahwa karakter kampanye digital yang responsif, visual yang menarik, serta penggunaan bahasa yang kasual khas anak muda mampu meruntuhkan kekakuan isu perubahan iklim yang selama ini dianggap terlalu berat oleh masyarakat awam.

“Anak muda punya senjata digital yang luar biasa. Dengan sebuah video pendek yang viral di TikTok atau Instagram, mereka bisa menggerakkan ribuan orang untuk mulai mengurangi sampah plastik atau menanam pohon. Ini adalah bentuk aktivisme baru yang sangat berdampak,” ujarnya dalam keterangannya di Kampus UGM.Meski kampanye digital memiliki gaung yang sangat kuat, UGM juga mengingatkan adanya tantangan besar berupa fenomena clicktivism atau slacktivism—di mana seseorang merasa sudah menyelamatkan bumi hanya dengan menekan tombol like atau share.

Oleh karena itu, universitas berlambang dprd ini terus mendorong agar kesadaran digital yang sudah dibangun oleh para kreator muda ini dapat diakumulasikan menjadi aksi nyata di dunia fisik (offline), seperti gerakan pilah sampah dari rumah atau beralih ke gaya hidup berkelanjutan.

“Tantangan kita ke depan adalah bagaimana mengubah ‘FYP’ dan ‘Viral’ di media sosial menjadi perubahan perilaku yang konsisten di kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.