TryMediaNusantara.com, Batam – Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) mengingatkan seluruh aparatur negara dan masyarakat akan bahaya perang narasi negatif di media sosial. BPIP menegaskan, jika ruang digital terus-terusan dijejali oleh hoaks dan narasi kebencian, hal yang hancur bukan cuma reputasi pemerintah, melainkan persatuan bangsa Indonesia. Hal ini menjadi sorotan utama dalam Forum Komunikasi Publik Tahun 2026 bertajuk “Strategi Bangun Narasi, Kuatkan Reputasi Negeri” yang digelar di Batam, Kepulauan Riau, Rabu (20/5/2026).

Pembicara kunci sekaligus Sekretaris Utama BPIP, Tonny Agung Arifianto, memaparkan bahwa tantangan pertahanan bangsa saat ini telah bergeser ke ranah non-fisik. Di era post-truth, ada tren mengkhawatirkan di mana publik lebih sibuk mencari pembenaran atas opini pribadi daripada mencari kebenaran yang sesungguhnya. Oleh karena itu, insan humas pemerintah dituntut mengambil peran vital sebagai benteng pertahanan yang menebarkan optimisme serta memperkuat kohesi sosial.

“Reputasi bangsa dibangun dari narasi yang kita ciptakan bersama. Apabila ruang digital dipenuhi narasi kebencian, maka yang rusak bukan hanya citra pemerintah, tetapi juga persatuan bangsa,” ujar Tonny di hadapan 480 peserta lintas sektoral. Merujuk data World Economic Forum, ia menambahkan bahwa misinformasi dan disinformasi kini menduduki peringkat atas sebagai risiko global jangka pendek yang paling mengancam stabilitas negara.

Di sisi lain, forum ini juga menyoroti bagaimana nilai-nilai Pancasila yang diimplementasikan secara konkret mampu mendongkrak capaian daerah. Pemerintah Kota Batam melalui Kepala Badan Kesbangpol, Riama Manurung, membuktikan sinergi ideologi ini berhasil membawa Batam mencatatkan pertumbuhan ekonomi melebihi rata-rata nasional sebesar 6,76 persen, dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) kategori sangat tinggi di angka 83,80.

Melalui agenda strategis ini, BPIP mendesak seluruh lini kehumasan kementerian, lembaga, hingga praktisi media untuk menyelaraskan persepsi ke dalam satu narasi tunggal yang berbasis Pancasila. Fondasi ideologi bangsa ini diharapkan tidak sekadar menjadi hafalan, melainkan bertindak sebagai jangkar komunikasi publik yang ampuh mengembalikan kepercayaan masyarakat sekaligus mengukuhkan posisi Indonesia di mata dunia.