TryMediaNusantara.com, Bandung – Direktur Utama Perum LKBN ANTARA Akhmad Munir memberikan penekanan serius terkait integritas informasi di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Dalam arahannya, ia menyebut bahwa akurasi kini menjadi barang mewah sekaligus fondasi utama yang harus dijaga oleh setiap insan pers agar tidak tergerus oleh derasnya arus disrupsi informasi. Hal ini disampaikan untuk memastikan bahwa setiap berita yang dikonsumsi masyarakat memiliki nilai kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan secara moral dan profesional.

Di hadapan para jurnalis dan praktisi media di Yogyakarta, Munir menyoroti fenomena kecepatan yang seringkali mengabaikan verifikasi. Ia berpendapat bahwa di era media sosial, semua orang bisa menjadi penyebar informasi, namun tidak semua bisa menyajikan kebenaran. Peran kantor berita nasional menurutnya harus menjadi penjaga gawang (gatekeeper) terakhir dalam menyaring fakta sebelum sampai ke tangan publik, guna meminimalisir dampak negatif dari penyebaran hoaks yang kian masif.

Akhmad Munir menegaskan bahwa kepercayaan publik adalah aset terbesar media yang tidak boleh dikhianati hanya demi mengejar jumlah kunjungan atau clickbait. “Informasi yang akurat adalah napas jurnalisme. Di era digital yang serba cepat ini, kita tidak boleh mengorbankan ketepatan data hanya demi menjadi yang pertama. Akurasi harus tetap menjadi prioritas utama untuk menjaga kepercayaan masyarakat,” tegasnya dalam kesempatan tersebut.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa setiap produk jurnalistik memiliki dampak besar terhadap opini publik dan stabilitas sosial. Jurnalis dituntut untuk tetap kritis dan tidak mudah tergiur oleh narasi yang belum jelas sumbernya. “Kita punya tanggung jawab moral untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat, bukan justru menambah kebingungan dengan informasi yang simpang siur atau belum terverifikasi dengan matang,” tambahnya lagi.

Menutup pernyataannya, Dirut Antara ini mengajak seluruh pihak untuk terus berinovasi tanpa meninggalkan prinsip-prinsip dasar jurnalistik yang sehat. Transformasi digital harus dimaknai sebagai alat untuk memperluas jangkauan kebenaran, bukan sebagai alasan untuk menurunkan standar kualitas informasi. Dengan sinergi yang kuat antara teknologi dan etika profesional, media diharapkan mampu terus berperan sebagai pilar demokrasi yang kredibel bagi bangsa Indonesia.