TryMediaNusantara.com, Jakarta – Peran guru di era digital kini tengah berada dalam persimpangan jalan yang krusial. Guru diingatkan untuk tidak terjebak menjadi sekadar pelaksana teknis atau “operator” perangkat teknologi di ruang kelas. Sebaliknya, guru masa kini memegang tanggung jawab besar sebagai “arsitek” pembelajaran yang mampu merancang strategi edukasi yang bermakna dan mendalam bagi para siswa.
Dalam sebuah diskusi mengenai transformasi pendidikan, ditekankan bahwa keberadaan teknologi secanggih apa pun tidak akan bisa menggantikan sentuhan pedagogis dari seorang pendidik. “Guru jangan hanya duduk di belakang laptop dan memutar video atau memberikan tugas digital tanpa makna. Guru harus menjadi arsitek yang mendesain bagaimana materi tersebut bisa dicerna dan membangun karakter siswa,” ujar narasumber utama dalam liputan khusus tersebut.
Fenomena “guru operator” ini menjadi perhatian serius karena dikhawatirkan dapat mengikis interaksi emosional dan intelektual antara pengajar dan murid. Pemanfaatan teknologi seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti peran guru dalam memberikan stimulasi berpikir kritis. “Teknologi adalah sarana, tetapi jiwanya ada pada skenario pembelajaran yang dibuat oleh sang guru. Jika gurunya hanya jadi operator, maka kelas akan terasa hambar dan mekanistis,” tambahnya.
Lebih lanjut, tantangan guru ke depan adalah bagaimana mengintegrasikan kurikulum dengan kebutuhan zaman tanpa kehilangan substansi pendidikan itu sendiri. Sebagai arsitek, guru dituntut kreatif dalam mengelola sumber daya digital untuk membangun “bangunan” pengetahuan yang kokoh. “Kita butuh guru yang mampu mengonstruksi pengalaman belajar yang unik, yang membuat siswa rindu untuk masuk ke kelas karena desain pembelajarannya yang inspiratif,” tegasnya.
Menutup keterangannya, ditekankan bahwa investasi terbesar dalam pendidikan bukan pada pengadaan gawai, melainkan pada pengembangan kualitas berpikir para pendidik. “Mari kita kembalikan marwah guru sebagai perancang masa depan. Guru sebagai arsitek pembelajaran adalah kunci agar transformasi digital di sekolah tidak kehilangan arah dan tetap berfokus pada kemanusiaan serta pengembangan potensi anak bangsa,” pungkasnya dalam wawancara tersebut.




Tinggalkan Balasan