TryMediaNusantara.com – Pernahkah Anda merasa lelah membaca puluhan lembar syarat dan ketentuan (Terms and Conditions) sebelum menggunakan sebuah aplikasi? Alhasil, jari kita seolah otomatis langsung menekan tombol “I Agree” atau “Saya Setuju”. Namun waspadalah, tindakan tersebut kini dikenal sebagai fenomena ‘Consent Semu’.
Persetujuan yang kita berikan di era digital saat ini dinilai tidak lagi memiliki makna yang kuat. Fenomena ini menjadi sorotan tajam karena menyangkut kedaulatan data pribadi pengguna di tengah masifnya penggunaan platform digital.
Hanya Formalitas, Bukan Kesepakatan Pakar hukum menyoroti bahwa consent atau persetujuan dalam ruang digital seringkali bersifat semu. Pengguna tidak benar-benar memahami apa yang mereka setujui karena dokumen legal yang disodorkan terlalu panjang, rumit, dan menggunakan bahasa hukum yang sulit dipahami orang awam.
“Klik ‘I Agree’ itu seringkali bukan bentuk kebebasan berkehendak, melainkan keterpaksaan karena jika tidak klik, kita tidak bisa memakai layanannya,” ungkap praktisi hukum dalam ulasan tersebut.
Ancaman Data Pribadi Dengan adanya UU Perlindungan Data Pribadi (UU PDP), prinsip informed consent seharusnya menjadi harga mati. Persetujuan harus diberikan secara sadar, spesifik, dan tanpa paksaan. Namun kenyataannya, banyak platform yang masih menerapkan ‘dark patterns’—desain antarmuka yang menggiring pengguna untuk memberikan data mereka tanpa menyadari risikonya.
Kondisi ini menciptakan ketimpangan posisi antara penyedia layanan (platform) dan pengguna. Platform memiliki kendali penuh atas data, sementara pengguna hanya menjadi objek yang datanya terus dikeruk tanpa perlindungan yang nyata.
Pentingnya Literasi Digital Fenomena consent semu ini menjadi alarm bagi masyarakat untuk lebih berhati-hati. Persetujuan bukan sekadar formalitas agar aplikasi bisa terbuka, melainkan bentuk penyerahan hak atas privasi kita.
Publik didorong untuk lebih kritis terhadap poin-poin krusial seperti kepada siapa data dibagikan dan untuk tujuan apa data tersebut digunakan. Jangan sampai, kemudahan teknologi yang kita nikmati hari ini dibayar mahal dengan hilangnya privasi di masa depan.




Tinggalkan Balasan