TryMediasNusantara.com, Yogyakarta – Fenomena dumb scrolling atau keasyikan menggulir layar tanpa tujuan kini menjadi ancaman nyata bagi tumbuh kembang anak. Menanggapi hal ini, Ustadz Fadhlurrahman membagikan tips krusial mengenai tiga fase mendidik anak agar tetap tangguh di era digital.
Dalam pemaparannya di Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Ustadz Fadhlurrahman menyoroti bagaimana konten singkat dan tanpa henti di media sosial dapat menurunkan kemampuan fokus dan daya kritis anak. Jika dibiarkan, anak bisa terjebak dalam pola hidup yang pasif dan konsumtif terhadap informasi.
“Era digital bukan untuk dijauhi, tapi untuk dikuasai. Orang tua harus hadir sebagai filter sebelum anak terpapar bahaya dumb scroll yang bisa merusak mentalitas mereka,” ujarnya.
3 Fase Mendidik Anak Menurut Ustadz Fadhlurrahman, kunci utama mendidik anak di zaman sekarang adalah dengan mengikuti tiga fase perkembangan yang terukur:
1. Fase Bermain (Usia 0–7 Tahun) Pada tahap ini, anak harus dipuaskan rasa ingin tahunya melalui aktivitas fisik dan interaksi langsung. Orang tua disarankan membatasi penggunaan gadget agar saraf motorik dan sensorik anak berkembang sempurna secara alami tanpa gangguan layar.
2. Fase Penanaman Disiplin (Usia 7–14 Tahun) Di fase ini, anak mulai dikenalkan dengan aturan. Jika anak mulai bersentuhan dengan teknologi, orang tua wajib menanamkan pemahaman tentang mana yang bermanfaat dan mana yang sia-sia. Penanaman nilai agama dan etika menjadi benteng utama di tahap ini.
3. Fase Pendampingan/Persahabatan (Usia 14 Tahun ke Atas) Ketika anak beranjak remaja, pola didik harus berubah menjadi teman diskusi. Orang tua perlu menjadi tempat bertanya yang nyaman terkait konten-konten yang mereka temui di dunia maya, sehingga anak tidak mencari pelarian di tempat yang salah.
Lawan ‘Dumb Scroll’ dengan Kedekatan Ustadz Fadhlurrahman menegaskan bahwa teknologi sehebat apa pun tidak akan bisa menggantikan peran kehadiran orang tua. Penyakit dumb scroll sering kali terjadi karena anak merasa kesepian atau kurang perhatian di dunia nyata.
“Mari kita perkuat kedekatan. Jangan sampai anak lebih nyaman curhat dengan algoritma media sosial daripada dengan orang tuanya sendiri,” pungkasnya.
Dengan menerapkan tiga fase ini, diharapkan generasi mendatang tidak hanya menjadi pengguna teknologi yang pasif, tetapi menjadi insan yang adaptif, cerdas, dan tetap menjaga nilai-nilai spiritual di tengah gempuran digital.




Tinggalkan Balasan