TryMediaNusantara.com, Jakarta – Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) terus mempercepat pemerataan literasi digital hingga ke wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T). Fokusnya kini bukan lagi sekadar membangun infrastruktur telekomunikasi, melainkan memastikan masyarakat di pelosok mampu menggunakan teknologi secara bijak dan produktif.
Langkah ini dilakukan untuk menutup celah kesenjangan digital yang masih terjadi antara wilayah perkotaan dan perdesaan. Komdigi menilai, tanpa literasi yang cukup, masyarakat di daerah 3T rentan menjadi korban kejahatan siber.
“Kita ingin masyarakat di wilayah 3T tidak hanya menjadi penonton. Mereka harus menjadi pemain di ekosistem digital. Literasi adalah kuncinya agar mereka tidak mudah terpapar hoaks, judi online, hingga penipuan digital,” ujar perwakilan Komdigi dalam keterangannya, Kamis (9/4/2026).
Program penguatan literasi ini mencakup berbagai aspek, mulai dari kecakapan digital (digital skills), etika digital (digital ethics), keamanan digital (digital safety), hingga budaya digital (digital culture).
Komdigi juga menggandeng berbagai komunitas lokal dan relawan TIK untuk mendampingi pelaku usaha mikro di daerah 3T. Tujuannya agar mereka bisa memanfaatkan internet untuk memperluas jangkauan pasar produk lokal mereka ke kancah nasional.
“Potensi ekonomi di daerah 3T itu besar sekali. Kalau mereka paham cara jualan online dan cara menjaga keamanan data pribadinya, ini akan sangat membantu perekonomian daerah,” jelasnya.
Selain itu, Komdigi menegaskan bahwa pembangunan fisik seperti menara BTS (Base Transceiver Station) akan terus dioptimalkan fungsinya melalui edukasi yang berkelanjutan. Masyarakat diajak untuk menjaga fasilitas negara tersebut sekaligus memanfaatkannya untuk hal-hal yang positif.
“Literasi digital ini adalah perjalanan panjang. Kami akan terus hadir hingga ke pelosok-pelosok desa untuk memastikan transformasi digital yang inklusif benar-benar terwujud di seluruh Indonesia,” pungkasnya.




Tinggalkan Balasan